Bayar Utang Dengan Tubuh dan Ragaku
6 mins read

Bayar Utang Dengan Tubuh dan Ragaku

Gairah Dewasa – Aku begitu merasakan kecewa dengan suami ku lantaran aku harus melayani nafsu teman-teman nya demi bisa membayar hutang suami ku kepada teman nya .

Pernikahan itu sendiri memang berlangsung mewah untuk seukuran desaku. Orangtua Endro adalah petani tembakau. Endro anak kedua dari tiga bersaudara. Endro bersekolah di kota Semarang sejak kecil hingga lulus SMU. Indah namaku, Sejak kecil hingga tamat SMU aku bermukim di Salatiga.

Baca Juga : Tante Sabyan Membuatku Gairah Karna Tobrutnya

Orangtuaku nyaris tak pernah mengajakku bepergian, bahkan kota Semarang dan Yogyakarta kuketahui lewat wisata sekolah. di desa, aku digunjingkan sebagai perawan tua karena hingga usia 27 tahun aku belum juga mendapat jodoh.

“Indah, umurmu sudah tua, kok belum dapat jodoh juga. Kamu akan bapak jodohkan sama anak teman Bapak ya,” kata Bapakku suatu kali. “Inggih Pak, kulo nderek mawon,” jawabku menyetujui usulan Bapak.

Dua bulan kemudian undangan pernikahanku sudah beredar, namun tak sekalipun aku bertemu Endro, paling hanya lewat foto yang dibawa oleh Bapakku. “Endro belum bisa cuti kerja, nanti saja cutinya diambil sekalian hari pernikahan,” alasan Bapakku saat kutanya kenapa Endro tak bertandang ke rumah kami.  Kan aku ingin berkenalan dengan calon suamiku.

Pernikahan kami berjalan lancar, tetamu banyak berdatangan membawa kado bermacam-macam, hampir sebagian besar alat rumah tangga.

Kami juga menanggap wayang kulit, pertunjukan kesenian Jawa Tengah yang didalangi oleh Ki Sutisna ahli pewayangan di desa kami. Pokoknya pernikahan kami meriah dan berkelas untuk ukuran desa kami.

Malam usai pernikahan, Endro tak menyentuhku. “Aku lelah, ngantuk. Aku meh turu,” tegasnya langsung tertidur. Aku hanya diam dan malu karena harus berbagi ranjang dengan pria yang baru kukenal tadi pagi saat akad nikah. Dalam diam kupandangi wajah Endro, berwajah persegi empat, dengan rahang tegas, rambut sedikit berombak. Dengkuran kecil mengiringi tidur lelapnya.

Hanya tiga hari Endro di rumah, kemudian diajaknya aku ke kota Semarang menuju kediamannya. Endro kontrak disebuah rumah kecil tanpa halaman dan mempunyai satu kamar tidur, satu ruang tamu, dapur sekaligus ruang makan dan satu kamar mandi. Cukuplah rumah itu bagi kami berdua. Sejak menikah praktis aku di rumah saja, Endro berangkat kerja pagi dan pulang pukul tujuh malam. Endro mengaku bekerja di perusahaan garmen, entah bagian apa.

Baru dua bulan pernikahan, Endro di PHK karena order garmen perusahaannya tempat bekerja mengalami kesulitan. Banyak pesanan yang datang dari Amerika dibatalkan, alasannya Amerika sedang dilanda krisis keuangan. Hal tersebut berdampak pada perusahaan tempat Endro bekerja. Endro bersikukuh tak mau pulang ke Desa.

“Kita harus ke Jakarta, mengadu nasib di sana. Kita akan tinggal di rumah teman-teman saya. Pokoknya kamu diam dan ikut saya,” tegas Endro meyakinkanku. Yang namanya istri ya nurut suami, apalagi aku tak bekerja, jadi tak ada alasan untuk menolaknya.

di Jakarta kami tinggal di bilangan Tanjung Priok, menumpang di sebuah rumah kontrakan milik Hansen, teman Endro. di rumah tersebut hanya Endro yang membawa istri, yang lain lajang. Yang tadinya Endro perhatian dan terlihat mencintaiku kini mulai berubah. Apalagi sejak tiap malam Endro bermain kartu dengan teman-temannya. Jika kuingatkan untuk tak berlama-lama bermain kartu, Endro malah marah.

“Ndah, seharian aku berjalan kaki putar-putar cari lowongan kerja, tak satupun diterima. Aku hanya menghilangkan lelah dengan bermain kartu,” urainya. Aku terdiam dan rebahan di kamar menunggu Endro.

Hingga suatu hari Endro mendadak masuk kamar dan mendekapku erat sambil berbisik “sayang, tolonglah suamimu ini. Aku kalah main kartu. Aku berusaha untuk mengalahkan Hansen namun makin hari kekalahanku makin besar hingga lima juta. Jika tak kubayar kita akan diusirnya dari rumah ini, tolonglah aku Ndah….”

“Bagaimana bisa mas? Uang kita hanya tinggal tiga setengah juta, dan ku upayakan untuk makan seirit mungkin agar mencukupi kebutuhan makan kita, Mas Endro kan belum dapat kerja. Bagaimana mungkin kita membayarnya, dengan apa mas?” mulai terisak sekaligus kebingungan menerpaku.

Indah sayangku, kali ini mas benar-benar meminta tolong padamu, biarkan Hansen tidur denganmu malam ini hingga besok pagi. Utang tersebut akan lunas,” papar Endro. Aku tak mampu berkata-kata. Aku menangis lirih, tapi hanya inilah yang dapat membantu suamiku dari masalahnya. Aku mengangguk pelan menyetujui permintaannya.

Malam itu, Hansen masuk kamar, dan berdiam diri di sebelahku. “Bukan seperti ini Ndah, bukan permintaanku Ndah, tapi suamimu yang mengusulkan sebagai pelunas hutangnya. Aku tak bisa membiarkanmu terlibat dalam hutang suamimu, Indah,” parau suara Hansen.

“Aku menyetujuinya kok Mas Hansen, tapi besok pagi seluruh hutang mas Endro lunas ya,” bisikku tak kalah parau. Entah siapa yang memulai, kami berpagutan dan saling menindih, berguling tanpa suara. Jujur saja, malam itu aku mendapat kenikmatan luar biasa yang diberikan oleh Mas Hansen.

Dengan tangannya, dengan lidahnya, Mas Hansen memuaskanku. Subuh aku terbangun dan memintanya lagi dan Mas Hansen memberiku kepuasan tak berkesudahan dan mas Hansen pun mengakui bahwa memek ku ini sangat berbeda dengan yang lain karena masih rapet.

Sesekali karena aku sudah sering melayani mas Hansen , terkadang aku meminta mas Hansen untuk melayani nafsu ku,dikarenakan mas Hansen jago sekali membuat aku horny dan memek ku sangat nikmat ketika kontol mas Hansen dimasukan

“Mas Endro, aku tak mau membahasnya. Aku sudah berkorban melunasi hutangmu, jangan bertanya-tanya lagi tentang tadi malam,” hardikku kesal kepada Mas Endro saat dia menanyakan perihal yang kukerjakan tadi malam bersama Mas Hansen.

Ternyata, pembayaran hutang tersebut tak berhenti hingga disitu. Kawan-kawan Mas Endro yang lain membujuk suamiku agar aku melayani hasratnya dengan bayaran satu juta semalam. Mas Endro setuju karena hingga berbulan ini dia belum mendapat pekerjaan. Kami terjepit masalah ekonomi namun dengan cara ini kesulitan keuangan kami dapat teratasi sementara.

Maka hampir setiap malam aku melayani teman-teman Mas Endro yang kos di rumah kontrakan Mas Hansen, aku menikmati belaian setiap pria tersebut. Aku menikmati cumbuan panas itu. Aku belajar bercinta dengan selusin pria. Dan tiap malam pria-pria tersebut meniduriku minimal dua kali. Aku mendapatkan uang yang cukup hingga mampu untuk pergi mencari kontrakan rumah sendiri.

Setelah aku pindah rumah, aku tak lagi melayani jasa seksual pria hidung belang. Aku menjadi istri setia kembali, toh Mas Endro sudah bekerja sekarang walaupun hanya sekedar supir pribadi seorang pengusaha China. Tapi gaji, bonus dan tunjangan kesehatannya cukup untuk menghidupi kami.

Aku dan Mas Endro tak sekalipun pernah membahas kejadian tersebut hingga kini. Kami melupakannya~END

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *