Keberuntungan Aryo si Penjual Koran
Novel Dewasa — “Koran.. Berita Viral Korannya pak buk.. Pempek enak pempek enak.. Pempek Koran..”

Vina memicingkan telinganya mendengar suara tersebut. Di siang hari seperti itu memang tak jarang ada penjual yang masuk kedalam komplek menjajakan barang dagangan. Pengalaman Vina selama 10 tahun tinggal disana, ia sudah hapal mana-mana saja penjaja makanan atau barang yang lewat di muka rumahnya. Namun kali itu Vina merasa tidak familiar dengan suara tersebut. Iseng, Vina pun berjalan kedepan dan melongok keluar.
Baca Juga : Digaulin oleh Guru Olahragaku yang Ganteng
“Dek, sini masuk.”
Vina melambaikan tangannya memanggil si penjual tersebut. Dan memang benar tebakannya, ia baru kali ini melihat si pemuda penjaja koran ini di sekitaran komplek.
“Jualan apa, Dek?”
“Koran bu, tabloid, semua ada.”
“Oh.. itu apa di dalam?”
“Pempek bu. Masih hangat bu baru digoreng.”
Vina mengangguk-angguk sembari memandangi si pemuda tanggung tersebut mengeluarkan koran-korannya di pelataran teras rumah agar Vina bisa pilih.
“Kok saya baru lihat kamu dek. Biasanya yang dagang koran ada lagi langganan saya yang sudah tua. Pak Eko kalo ga salah namanya.”
“Iya bu, itu paman saya. Beliau sakit semenjak awal bulan, jadi tidak bisa dagang.” Jawab si pemuda itu singkat. Vina menerka-nerka umurnya mungkin sepantaran dengan anaknya yang paling sulung.
“Oh, sakit apa dia pak Eko? Parah sakitnya?”
“Sakit gula bu, sekarang paman hanya tidur saja dirumah. Saya yang bantu jualan koran juga.”
“Astaghfirullah, semoga sehat-sehat saja ya Pak Eko. Nama kamu siapa, nak?” Tanya Vina melembut.
“Saya Aryo, bu.” Jawab Aryo sopan.
“Kamu kelas berapa? Masih sekolah?”
Aryo menggeleng malu-malu.
“Saya terakhir lulus SMP tahun 2 tahun lalu bu. Tadinya hanya jualan pempek sepulang sekolah, bantu-bantu paman dan adik-adik sepupu saya yang masih kecil-kecil. Tapi sekarang saya full jualan pempek saja di sekitar pasar pagi. Sekarang Karena paman sakit, saya juga jualan koran.” Ujar Aryo bercerita dengan polosnya.
“Orangtua kamu kemana?”
Aryo lagi-lagi menggeleng malu-malu. Luluh rasanya hati Vina, apalagi terbayang apabila anak-anaknya harus menjalani hidup seperti Aryo. Bulat hati Vina ingin meringankan beban Aryo.
“Yasudah, kalo gitu saya beli tabloidnya satu dan korannya satu ya. Pempeknya juga saya bungkus 5 ya, Nak.”
“Baik bu. Saya bungkusin sekarang Bu.” Jawab Aryo cepat dengan sumringah. Vina tersenyum kecil melihat sedikit pancaran kebahagian di mata Aryo.
“Kamu sering-sering kesini ya, saya juga udah ga pernah langganan koran dan tabloid. Nanti biar ibu beli koran sama tabloid kamu.” Ujar Vina sambal tersenyum hangat. Aryo hanya mengangguk-angguk sambal mengulum senyum membungkus pempek pesanan Vina.
Dan seperti itulah persahabatan kecil antara Vina dan Aryo terjalin. Dua-tiga hari sekali Aryo pasti mampir membawa koran dan tabloid pesanan Vina. Tak jarang Vina memborong pempek dagangan Aryo, sampai heran suami dan anak-anaknya selalu saja ada pempek di meja makan terhidang. Vina yang kesehariannya hanya tinggal di rumah sendiri sebagai ibu rumah tangga turut senang dengan adanya Aryo yang sesekali mampir menemaninya siang-siang untuk sekedar berteduh dan mengobrol sejenak dengannya.
***
Hingga di suatu siang di musim hujan, hujan deras mengguyur komplek sedari subuh. Hujan gerimis dan deras yang datang silih berganti tak pelak membuat komplek banjir di beberapa titik. Vina sendiri harus terjebak di pasar swalayan menunggu hujan reda. Barulah ketika hujan berganti gerimis Vina baru berani untuk naik gojek pulang ke rumah.
Hujan masih mengguyur agak deras ketika Vina masuk kedalam kawasn komplek. Dari belakang jok tukang ojek mata Vina menangkap sesosok Aryo yang berdiri berteduh di pos satpam.
“Eh, eh pak stop bentar pak. yo! Aryo!”
Aryo memicingkan mata melihat sesosok wanita berkerudung diseberang jalan yang berhenti diatas motor. Segera ia mengenali sosok Vina diantara rintik hujan.
“Kamu ngapain disitu yo? Jangan neduh disana, nanti basah! Kamu lari kerumah saya aja ya cepet! Ibu tunggu!” Teriak Vina. Aryo sayup-sayup mendengar ucapan Vina dan mengangguk-anggukan kepalanya.
Tak lama berselang Vina turun dari ojek, Aryo pun tiba sembari setengah berlari. Vina buru-buru melambaikan tangan menyuruh Aryo masuk kedalam rumah Karena hujan kembali menderas. Aryo tiba di teras rumah agak terengah-engah, korannya terlihat aman Karena ditutupinya dengan plastik. Namun baju dan rambutnya benar-benar basah kuyup akibat berlindung di pos satpam.
“Astaghfirullah, udah taro aja didepan korannya yo. Masuk aja sini kedalem gapapa.” Ujar Vina seraya membuka kunci pintu rumah.
Aryo berdiri canggung di muka pintu sembari badannya agak menggigil. Vina berdecak sambal bergeleng iba melihat kondisi Aryo.
“Sebentar ya Ibu carikan handuk. Baju ibu juga basah nih. Kamu langsung mandi aja yo, daripada kamu demam. Yuk ibu antar kedalam.”
Vina membimbing Aryo menuju kamar mandi tengah. Aryo baru kali itu masuk kedalam rumah. Dipandanginya furniture dan foto-foto keluarga Vina seraya ia berjalan kedalam rumah. Tak lama Vina muncul dari dalam kamar dan menyerahkan Aryo handuk bersih untuk ia gunakan.
“Tuh kamu pake, kamu masuk aja langsung mandi ya. Ibu juga mau ganti baju. Ibu masuk juga ya.” Ujar Vina cepat sambil kemudian menghilang lagi kedalam kamar.
Aryo keluar dari kamar mandi dengan hanya lilitan handuk di pinggangnya. Lagi-lagi ia hanya bisa berdiri canggung didepan kamar mandi sementara Vina belum keluar dari kamar. Tak lama pintu kamarpun terbuka dan Vina keluar masih sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Eh yaampun ibu lupa, sebentar ya yo ibu tadi udah ambilin bajunya diffa sementara baju kamu basah. Nih pake dulu, yo. Baju kamu biar kering dulu aja.” Ujar Vina lagi sembari menyodorkan baju anaknya ke tangan Aryo.
Aryo hanya melongo tatkala Vina menyodorkan baju tersebut ke tangannya. Baru kali itu Aryo melihat sisi lain dari Vina yang tak mengenakan kerudung dan hanya berdaster saja. Rambut Vina yang masih basah bergantung bebas pendek sedikit dibawah kuping, sekilas mengingatkan akan model rambut Desy Ratnasari. Memang ada sedikit perbedaan disana sini, dari bentuk badan Vina yang sedikit lebih berisi mungkin Karena memang faktor umur, atau mata Vina yang agak sedikit lebih sipit dari Desy Ratnasari yang asli, namun secara keseluruhan mereka memang tak berbeda jauh.
“Loh kok diem aja yo? Ini ambil bajunya, kamu ganti di kamar mandi gih.” Ujar Vina sembari masih asik mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“I-iya bu..”
Aryo pun menghilang kedalam kamar mandi untuk berganti baju. Vina dengan santai memunguti baju basah Aryo dan membawanya kebelakang ke tempat cucian untuk sekedar dijemur.
“Udah ganti bajunya yo? Baju kamu ibu jemur dulu ya di belakang biar kering.”
Aryo hanya mengangguk-angguk sambil duduk dengan canggung mengenakan kaus dan celana basket longgar. Vina tersenyum kecil melihat Aryo yang sedari tadi berusaha untuk tidak memandangi Vina.
“Kenapa kamu yo? Kok kaya heran gitu ngeliatin Ibu. Heran ya baru kali ini liat ibu ga pake kerudung? Hehe”
Aryo hanya tersenyum kecut menanggapi candaan Vina. Memang agak sedikit kaget Aryo dibuatnya. Vina yang kerap berkerudung sopan hingga mengenakan kauskaki tipis, kini melenggang santai hanya mengenakan daster kutung (daster tanpa lengan) sebatas dengkul.
“Gapapalah yo, sekali-kali ini. Lagian didalem rumah juga ga ada yang liat. Yang liat juga kan kamu aja ga ada orang lain.” Hibur Vina lagi sambil tersenyum lembut.
Setelah itu Vina dan Aryo pun makan dengan khidmat dengan lauk seadanya di meja makan. Pelan-pelan Aryo bisa menyesuaikan diri kembali dan merekapun berdua asyik mengobrol seperti biasanya. Di luar hujan masih terus menggelegar, Vina mengintip keluar dari balik jendela mengamati air yang tercurah begitu banyaknya dari langit.
“Untung aja tadi ya yo, ibu ngeliat kamu. Coba liat nih, ujannya masi ga berenti juga malah makin deres. Bisa banjir ni komplek.. ckck” Ujar Vina sambil memijat-mijat tengkuknya sendiri.
“Iya bu..” Jawab Aryo pelan.
“Duh kayanya ibu masuk angin deh, tengkuk ibu berat banget ini rasanya. Kamu bisa ngerok ga yo?” Keluh Vina.
Aryo hanya menggeleng pelan.

“Tapi jangan dikerok juga sih, nanti heran lagi suami saya kok bisa ada yang ngerok? Bisa berabe.. hahaha. Ibu minta tolong pijitin aja ya yo?” Pinta Vina lagi sembari beranjak kedalam kamar mencari minyak urut. “Sini aja yo, masuk nggapapa..” Panggil Vina lagi dari dalam kamar.
Aryo melangkah dengan lambat, masih ragu karena merasa tidak enak, untuk pertama kalinya ia masuk kedalam kamar tidur orang lain tentu saja menimbulkan rasa canggung.
“Nih minyak urut yo, kamu olesin aja nih ke pundak sama leher belakang ibu. Tolong yah?” Ujar Vina sembari bersendawa sendiri yang kini sudah duduk di pinggir kasur.
Aryo mau tidak mau mengikuti permintaan Vina. Dengan hati-hati Aryo menumpahkan sedikit minyak angin ke permukaan tangannya dan mengusap tengkuk Vina pelan.
“Hmm.. anget. Iya gitu yo, agak dipencet-pencet yo.”
Dengan patuh Aryo menuruti komando Vina. Sempat terpesona Aryo oleh halus lembutnya kulit Vina yang selama ini selalu terbalut kerudung. Namun dientaskannya pikiran itu jauh-jauh. Vina mengangguk-angguk terpejam menikmati urutan Aryo.
“Yo, sambil tiduran bisa ngga yo? Ibu pegel juga duduk nyamping gini.” Tukas Vina cepat. Dengan santainya Vina melengos dan menelungkupkan wajah berbaring tengkurap diatas kasur.
Aryo lagi-lagi tercekat menelan ludah melihat Vina dalam posisi seperti itu. Masih dengan takut-takut Aryo bergerak ikut naik keatas kasur. Vina kemudian melebarkan kedua kakinya memberikan ruang bagi Aryo untuk bersimpuh diantara kakinya. Sekelebat putih halusnya paha dalam Vina membuat jantung Aryo berdegup kencang. Aryo mulai meraba pelan punggung Vina dan mulai memijitnya perlahan.
“Hmm iya yo gitu yo.. kuat juga ya pijitan kamu..” ujar Vina sembari tetap telungkup dan memejamkan mata. “Atasan lagi yo di pundak kaya tadi.” Pinta Vina lagi.
Aryo dengan agak kesusahan mencondongkan diri makin kedepan berusaha meraih pundak Vina. Meski Vina sudah melebarkan kakinya tetap saja Aryo kesulitan karena mau tak mau Aryo harus makin merapat diantara sela kaki Vina. Dan benar saja, baru ketika Aryo hendak memajukan badannya, tanpa sengaja tubuh bagian bawah Aryo menyenggol pantat Vina.
“M-maap bu, p-permisi.” Tukas Aryo cepat-cepat. Vina hanya terkekeh kecil karena canggungnya Aryo. “Iya gapapa, cepet pijit lagi.” Jawab Vina tak sabar.
Aryo kembali memijat sambil berusaha menahan bagian bawahnya agar tidak menyenggol lagi. Namun tentu saja sia-sia karena posisinya tidak memungkinkan. Sehingga Aryo berupaya agar tidak terlalu sering menempel ke pantat Vina. Diam-diam Aryo juga berusaha sekuat tenaga agar tidak terbangun dedek kecilnya, karena jujur saja lembutnya pantat Vina mau tak mau merangsang kemaluannya jadi terbangun. Tiap kali menempel rasanya darah di dalam diri Aryo berdesir.
Vina juga sebenarnya mengetahui Aryo yang berusaha keras menahan diri dan tetap sopan. Vina tahu betul di umur segitu baik Aryo maupun anak tertuanya sudah mulai menjalani proses menjadi dewasa dan tertarik dengan lawan jenis, sehingga Vina paham betul apa yang dialami Aryo saat ini. Namun Vina diam-diam saja, malahan agak sedikit geli melihat Aryo seperti itu. Akhirnya Vina menyuruh Aryo untuk santai saja.
“Udah yo gapapa, nempel dikit juga gapapa kok.” Ujar Vina sambil tetap telungkup.
Aryo tidak langsung menjawab dan hanya diam saja. Akhirnya Aryo memberanikan diri untuk mengiyakan perkataan Vina.
Aryo akhirnya mencondongkan badannya kedepan dan menempelkan tubuh bagian bawahnya ke pantat Vina. Aryo malu-malu menghela napas ketika ia merasakan burungnya melekat tepat di tengah-tengah pantat Vina yang lembut. Begitu pula Vina yang akhirnya merasakan bonggolan kenyal di bagian belakangnya. Vina agak terkekeh merasakan burung Aryo yang sudah setengah mengeras. Dasar anak muda, pikir Vina dalam hati.
Namun dengan begitu tak lantas membuat Aryo malah menjadi biasa saja, justru kebalikannya Aryo makin tersiksa menahan ereksinya. Aryo berusaha mengalihkan perhatiannya dengan berpikir hal yang lainnya. Namun sialnya di sisi kasur terdapat cermin berukuran besar yang melekat di lemari. Tatkala Aryo melirik, ia melihat dirinya seakan tengah berhubungan badan dengan Vina dalam posisi seperti itu. Aryo jadi makin tercekat dan sialnya hal tersebut malah membuat ereksi Aryo makin menjadi-jadi.
Vina yang tadinya setengah mengantuk malah jadi melek terbangun merasakan gundukan lembek di pantatnya kini malah membongkah. Diam-diam Vina jadi merasa agak geli-geli juga tiap kali burung Aryo yang menempel erat di pantatnya berkedut pelan. Namun Vina memilih diam saja karena apabila ia bergerak membetulkan posisinya, Aryo pasti jadi malu sekali. Jadi Vina memilih untuk diam saja berpura-pura tidur.
Di lain pihak Aryo sudah merah padam wajahnya, keringat dingin mengalir di lehernya. Aryo memilih untuk menunduk saja mengalihkan pandangannya kebawah. Namun Aryo kaget bukan kepalang manakala ia mengetahui ujung bawah daster Vina sudah setengah tersingkap keatas. Sekilas Aryo bisa melihat bongkahan pantat Vina setengah mengintip dari sisi dasternya. Aryo merasa terpaku takut untuk bergerak namun juga takut untuk berhenti. Takut malah apabila ia berhenti dan membetulkan dasternya, Vina malah terbangun dan memergokinya.
Vina awalnya tidak merasa ujung dasternya tersingkap ketas, dan samasekali lupa ia tak mengenakan celana dalam waktu itu. Sehabis mandi ia buru-buru mengenakan baju dan mencarikan baju untuk Aryo hingga ia terlupa. Namun suatu saat tiba-tiba Vina merasa geli di bagian bawah tubuhnya, manakala ujung bonggol Aryo yang mengeras dari balik celana menggosok permukaan kemaluannya yang tak tertutup apa-apa. Vina agak panik, namun tak berani untuk bergerak maupun bersuara manakala tiap kali Aryo bergerak, ujung kemaluan Aryo menggosok lembut bibir kemaluannya. Vina terdiam menggigit bantal berusaha agar tidak bersuara samasekali.
Sekali, dua kali, tiga kali, hingga berkali-kali, lama kelamaan memberi efek yang makin intens dalam diri Vina. Badannya jadi lemas keenakan oleh gesekkan Aryo. Matanya jadi pelan-pelan sayu, khidmat menerima tiap gerakkan yang ditimbulkan oleh Aryo. Apalagi saat itu Aryo hanya menggunakan boxer tipis tanpa celana dalam, yang tentu saja terasa oleh kemaluan Vina terutama setelah menjadi semakin sensitif akibat gesekkan ujung penis Aryo. Vina hanya bisa berharap Aryo tidak merasakan badan Vina yang kaku menahan gelinjang tiap kali Aryo menyenggol kemaluannya, dan tidak menyadari kemaluannya yang kian berembun akibat gesekkan tersebut.
Hingga akhirnya pada suatu ketika Vina yang sudah begitu lemas tak berdaya merasa Aryo menghentikan aksinya. Kesadarannya yang sudah hampir setengah menipis sedikit bangkit kembali. Hati kecilnya bertanya-tanya kenapa Aryo malah menghentikan aksinya disaat ia sudah nyaris pasrah dalam kenikmatan. Namun pertanyaannya terjawab tak lama berselang ketika kembali Vina merasakan sensasi geli itu datang lagi, namun kali ini Vina dapat merasakan jelas hangat daging keras Aryo bersentuhan langsung dengan kulitnya.
Vina terbelalak namun tetap terdiam meskipun kaget. Kembali digigitnya bantal dibawah mukanya itu kencang-kencang. Vina tak menyangka Aryo berani berbuat sejauh ini. Terdengar napas Aryo yang juga agak tersengal-sengal dibelakangnya. Entah mengapa dalam kepanikan seperti itu Vina memilih untuk diam mematung ketimbang menghentinkan aksi Aryo. Mungkin Vina juga sudah terbuai keenakan, entah karena alasan lainnya. Yang jelas Vina merasakan badannya kembali lemas digelitiki rasa geli ketika Aryo kembali menggesekkan moncong kemaluannya di bibir kemaluan Vina yang kini tak lagi dihadang celana.
Aryo merasa kepalanya begitu berat, dan sekelilingnya semakin kabur. Nafasnya memburu dan gelora nafsunya tidak bisa lagi dibendung. Apalagi ketika ujung penisnya merasakan hangat daging kemaluan Vina yang mulai mengeluarkan sesuatu. Tangannya tak lagi memijat pundak Vina melainkan menahan beban tubuhnya di sisi kanan dan kiri tubuh Vina. Tiap gesekan seakan membuat kemaluan Vina merekah lebih lebar dari sebelumnya. Kemaluan Aryo seperti ikut ketagihan ingin mencicipi terus lubang Vina yang seakan-akan memanggil manggil dirinya.
Rangsangan yang amat lembut dan pelan itu membuat akal sehat Vina dan Aryo buyar entah kemana. Aryo dan Vina diam-diam makin larut dalam cumbuan malu-malu kemaluan mereka. Vina yang juga sudah kegatalan jadi terbayang-bayang apabila Aryo benar-benar memasukkan batangnya kedalam kemaluannya. Badannya jadi merinding membayangkan apabila hal itu benar terjadi.
Kemaluan Vina yang merekah itu seakan memancing kemaluan Aryo untuk bergerak masuk. Aryo secara naluriah kini tak hanya menggesekan pucuk senjatanya saja, namun juga mulai menekan lembut kedepan. Kemaluan Vina yang semakin lembab membuat ujung penis Aryo semakin mudah membelah dan membukanya. Vina juga ikut merasa bibirnya kemaluannya merekah tiap kali Aryo menempelkannya dan sedikit mendorongnya kedepan. Vina serasa melayang tiap kali Aryo melakukan hal tersebut.
Pelan tapi pasti, Aryo mendorong pelan dan menariknya moncong kemaluannya lagi kebelakang. Baik Vina dan Aryo menyadari tiap kali kepala helm itu masuk semili lebih dalam tiap kali Aryo merangsek maju. Aryo yang sudah tidak lagi berpikir sehat, terus berusaha menerobos maju lebih dalam, membuat Vina dibawahnya menggigit jarinya was-was tak sabar. Hingga akhirnya di puncak birahi mereka, kepala jamur merah itu berhasil mendobrak masuk.
Napas Aryo serasa tercekat didada ketika ujung kemaluannya hilang terhisap masuk kedalam rongga kemaluan Vina. Waktu seakan berhenti ketika akhirnya Vina merasakan kemaluannya menjepit mesra bonggol milik Aryo. Vina ingin mendesah sekuat tenaga namun ditahannya. Akhirnya setelah disiksa begitu lama Vina merasa plong dan lega, kemaluannya yang sudah begitu gatal bisa merasakan bonggol yang sedari tadi meluluh lantakkan imannya.
Aryo yang kini akhirnya berhasil mengecap lubang indah milik Vina itu kini tak lagi mau menariknya keluar. Ingin rasanya Aryo memasukkan batangnya selama mungkin disana. Rasa nikmat yang dirasakannya mendorong Aryo memasukkannya lebih dalam lagi, hingga seluruhnya diselimuti oleh kemaluan Vina. Dengan sangat hati-hati Aryo yang masih mengira Vina tertidur itu melesakkan kemaluannya maju. Vina begitu terbuai dalam kenikmatan. Dalam gerakan lambat seperti itu Ia dapat merasakan dengan seksama tiap kerut dan urat batang Aryo di dinding kemaluannya. Baru kali itu rasanya Vina menikmati ditembusi kemaluan seperti itu.
Hingga akhirnya Aryo menghela napas tertahan manakala ia melihat sisa batangnya menghilang masuk kedalam rongga kemaluan Vina. Aryo mengerjap-ngerjapkan matanya terhipnotis oleh sensasi yang baru kali itu ia rasakan seumur hidupnya, ketika segenap rongga kemaluan Vina membungkus batangnya erat-erat tak lepas. Hangat, becek, lembut menjadi satu. Diam-diam Vina juga menggigit bibirnya manakala akhirnya batang kemaluan Aryo masuk hingga mentok, berjejalan didalam rongga kemaluannya yang berkedut manja. Didorong oleh nafsu yang tak lagi terbendung, Aryo menggerakkan pinggulnya seakan berusaha mengeksplorasi segenap isi liang kemaluan Vina. Vina tak kuasa ikut menggoyangkan pinggulnya pelan akibat gocekkan Aryo.
Vina tanpa sadar mengangkat pinggulnya sedikit keatas, seakan membenarkan posisi penetrasi Aryo. Aryo yang juga sudah tak sadarkan diri, tak lagi memperhatikan gerakkan pinggul Vina, hanya mengikuti naluri alaminya untuk mulai menggerakkan pinggulnya maju dan mundur. Dengan lembut Aryo menarik pinggulnya mundur hinggga batangnya tertarik keluar, dan kemudian mendorongnya lagi masuk kedepan. Aryo mendesis merasakan nikmat gesekkan antara batangnya dan dinding kemaluan Vina yang basah.
Vina yang juga telah terbuai genjotan Aryo, menggigit sarung bantalnya hingga basah. Matanya membeliak keatas menikmati sodokan senjata Aryo. Pinggul Vina secara otomatis bergerak semakin keatas hingga setengah menungging, yang kemudian dipegang oleh kedua tangan Aryo seperti sedang menunggangi kuda. Bunyi kecipak basah karena gesekkan kemaluan mereka mulai nyaring terdengar di seantero kamar, terlebih lagi karena hujan sudah usai diluar sehingga bunyinya semakin jelas menggaung.
Mereka berdua makin bergelora oleh percintaan terlarang itu. Vina dan Aryo lengah oleh bisikkan setan. Vina merasakan kenikmatan seksual yang belum pernah ia alami sebelumnya. Apalagi semakin ia berusaha mengingat-ingat bahwa ini adalah suatu hal yang salah, semakin birahinya memuncak. Ia tengah berselingkuh dengan seseorang diluar pernikahannya, dan orang tersebut masih seumuran dengan anak sulungnya.
“Oh tidak, aku tengah bercinta dengan Aryo. Ouhgg aku akan klimaks.. ohh oohhh!” jerit Vina dalam hati.
Vina mencengkram bantal kuat-kuat ketika dari dalam kemaluannya mengalir cairan tak dikenal. Kedutan liar kemaluan Vina yang tengah orgasme hebat membuat Aryo tak lagi bisa menahan ejakulasinya.
“Mhh..b-bu Vina.. b-bu.. u-yo mau..ma — “
Mereka orgasme nyaris berbarengan. Ketika Vina menyiram kemaluan Aryo dengan cairan cintanya, Aryo membalas menyemprotkan spermanya banyak-banyak kedalam rahim Vina. 3–4 kali semprotan yang luar biasa melimpah, diserap semuanya oleh kemaluan haus Vina. Aryo diam mematung menikmati ejakulasi yang paling nikmat yang ia pernah rasakan, hingga akhirnya batangnya mengempis dan terlepeh dengan sendirinya dari dalam kemaluan Vina.
Vina mendengus pelan tatkala ia kembali turun dari langit ketujuh. Aryo yang juga akhirnya kembali kesadarannya, berubah panik dan pucat manakala ia melihat spermanya mengalir pelan dari dalam kemaluan Vina jatuh hingga ke kasur. Didorong oleh rasa takut, Aryo segera meloncat dari atas kasur. Ia nyaris terjerembap sangking lemas dengkulnya ia rasa. Seperti maling yang ketahuan, Aryo segera berlari keluar secepat mungkin kabur dari kamar dan keluar rumah meninggalkan Vina yang juga masih terhuyung lemas dan kebingungan karena Aryo telah hilang entah kemana.