Minta Dipijit Oleh Adek Sepupuku
8 mins read

Minta Dipijit Oleh Adek Sepupuku

Cerita Nakal – Aku Perempuan dan Namaku Tania (nama samaran). Ini adalah ceritaku semenjak aku masih baru-baru beranjak dewasa. Saat itu rumah saya sedang sepi. Maklum pemilu, padahal biasanya ramai sekali. Satu rumah dihuni tujuh orang, ayah, ibu, kakak laki-laki saya yang masih kuliah, saya sendiri SMA kelas tiga, baru saja selesai Ebtanas dan lulus. Kemudian adik perempuan saya kelas lima SD, lalu sepupu laki-laki saya kelas dua SMP dan pembantu satu orang. Oh iya, panggil saja saya Tania, asli Tolaki.

Jadi pada saat pemilu rumah yang berada di kawasan Perumahan Pemda Kampung Kemah Raya, Kendari jadi sepi sekali. Ayah ke Kolaka, mengurus pemilu di sana, kebetulan juga beliau caleg Golkar untuk daerah tersebut. Kakak saya jadi pengawas pemilu untuk UNFREL Kendari, ibu saya jadi panitia pemilu lokal kawasan Kemah Raya.

Baca Juga : Cerita Mbak Sri Pembantu Tetangga Yang Genit

Pembantu dan adik, disuruh bantuin ibu mengurus konsumsi. Praktis yang jaga rumah, saya dengan sepupu saya yang bernama, Rizal. Saya belum ikut memilih, belum cukup umur, baru 16 tahun lebih dua bulan. Saya dengan Rizal sangat akrab, habisnya dia ikut dengan keluarga saya sejak masih kelas satu SD, dan selalu menjadi teman main saya.

Senin itu, badan saya pegal sekali, selesai ngepel dan membersihkan rumah. Dan seperti biasa saya kepingin dipijitin. Biasanya sih oleh ibu, dan Rizal juga, habis dari kecil saya sudah biasa menyuruh dia. Karena agak pegal, saya panggil saja Rizal untuk mijitin, Rizal nurut saja. Saya langsung berbaring telungkup di karpet depan TV, dan Rizal mulai memijit tubuhku. Asyik juga dipijit oleh Rizal, tangannya keras sekali, punggungku jadi fresh lagi.

“Duh, zal.., mijitnya yang lurus dong, jangan miring kiri miring kanan..”, kataku.

“Abis, posisinya nggak bagus kak”, jawabnya.

“Kamu dudukin aja paha Kak Tania, seperti biasa..”.

“Tapi.., kak..”.

“Alah.., nggak usah tapi.., biasanya kan juga begitu.., ayo..”, Saya tarik tangan Rizal memaksanya untuk duduk di pahaku, seperti kalau dia memijit saya pada waktu-waktu kemarin.

Rizal akhirnya mau, duduk dan menjadikan kedua pahaku dekat pantat sebagai bangkunya, dan mulai lagi ia memijit sekujur punggungku. Tapi, pijitan agak lain, makin lama makin saya rasakan tangannya agak gemetaran dan nafasnya agak ngos-ngosan.

“Kamu kenapa zal, capek atau sakit..?”, tanyaku.

“Tidak, tidak apa-apa kak”, jawabnya. Akan tetapi duduknya mulai tidak karuan, geser kiri dan kanan, sementara pantatnya seperti tidak mau dirapatkan di pahaku, agak terangkat.

Akhirnya, saya menyuruhnya pindah, dan saya bangun, lalu duduk mendekati, biasa bermaksud menggoda.

“Ayo.., kamu kenapa, ini pantatmu, selalu diangkat.., tidak biasanya”, sambil tanganku bermaksud mencubit pantatnya.

“Tidak, tidak apa-apa kak..”, jawabnya sambil menghindari cubitanku, malah tanganku tersenggol celana bagian selangkangannya yang seperti agak tertarik kain celananya dan agak menonjol, melihat itu timbul rasa isengku, karena memang saya dan Rizal kalau main seperti anak-anak yang masih TK, asal ngawur saja.

“Loh.., itu apa di celanamu zal, kok nonjol begitu..” Mendengar itu Rizal merah padam mukanya, lalu ia berdiri ingin lari menghindar dari saya, tapi segera kutarik tangannya untuk duduk, dan tanganku yang satu menggerayangi celananya memegangi dan meraba benjolan tersebut.

“Jangan Kak Tania, Rizal malu..”, katanya. Dasar saya yang nakal, saya pelototin matanya, Rizal langsung diam, dan tanganku leluasa memegang barang tersebut.

Penasaran, saya buka resliting celananya dan menarik keluar barangnya yang mengeras tersebut, dan astaga, ternyata penis Rizal sudah menegang. Baru kali ini saya melihat penis milik orang yang bukan anak-anak dan sudah disunat yang tegang dan keras serta panjang seprti itu. Sementara Rizal diam saja, kepalanya hanya menunduk, mungkin malu atau bagaimana saya tidak tahu.

Saya acuh saja, perlahan-lahan, kuelus-elus penis Rizal, semakin mengeras penisnya hingga urat-uratnya seperti mau keluar. Kudengar Rizal mendesah tertahan. Lalu kuurut-urut sambil kupijit kepala penisnya yang merah itu, Rizal makin mendesah, “Ah.., ah..”

Kugenggam erat penis Rizal dan kukocok-kocok dengan perlahan, semakin lama semakin kencang. Badan Rizal ikut menegang, sambil kepalanya terangkat ke atas menatap langit, mulutnya terbuka, dia mulai agak mengerang, “Achh..”.

Semakin kencang penis Rizal kukocok, semakin menggeliat badan Rizal membuat saya tersenyum geli melihatnya. Sampai erangan Rizal makin mengeras, “Ach.., achh..”. Dan badannya makin menggeliat, hingga mungkin tidak tahan.., ia lalu memelukku erat. Mulanya saya kaget akan reaksinya, tapi saya biarkan saja, karena keasyikan mengocok penis Rizal. Rupanya Rizal sudah semakin menggeliat, hingga tangannya entah sadar atau tidak ikut menggeliat juga, meraba badanku dan payudaraku.

“He Rizal.., kenapa..” tegurku, sambil tetap mengocok penis Rizal, “Achh.., achh..” Hanya itu yang Rizal bilang, sementara tangannya meremas-remas payudaraku, dan remasannya yang kuat membuatku merasakan sesuatu yang lain, hingga saya biarkan saja Rizal meremas payudaraku, dan Rizal lalu menyingkap baju kaos yang kupakai, hingga kelihatan BH-ku dan meremas payudaraku lagi hingga keluar dari BH-ku.

“Acchh.., acchh” erang Rizal, saya mulai merasakan kenikmatan tersendiri pada saat payudaraku tidak terbungkus BH diremas oleh tangan Rizal dengan kuat, sedangkan penisnya tetap saja kukocok-kocok. Dan entah naluri apa yang ada pada Rizal, hingga dia nekat menyosor payudaraku dan mengisap putingnya seperti anak bayi yang sedang menyusu.

“Aduh.., Rizal.., aduhh” Hanya itu yang mampu kuucapkan, payudaraku mulai mengeras, keduanya diisap secara bergantian oleh Rizal.

Saya juga mulai menggeliat, kutarik kepala Rizal dari payudaraku, lalu kudekatkan ke wajahku, kucium bibirnya dengan nafsu yang muncul secara tiba-tiba, Rizal balas mencium, bibir kami berdua saling memagut, lidah bertemu lidah saling mengadu dan menjilati satu sama lain.

Tangan Rizal menggerayangi badanku, melepaskan baju dan BH-ku, hingga aku bugil sebatas dada. Kulepaskan juga baju yang dipakai Rizal, dan kupelorotkan celananya, hingga Rizal bugil tanpa sehelai benangpun, dan kembali kukocok penisnya, sedangkan Rizal kembali menyosor payudaraku yang sudah keras membukit.

Perlahan tangan Rizal menelusuri rokku lalu menyelusup masuk ke dalam rokku, “Acchh.., Acchh”, Saya dan Rizal terus mengerang dan menggelinjang. Tangan Rizal menyelusup ke dalam CD-ku, lalu mengusap-ngusap vaginaku.

“Aduuhh.., Rizal..” erangku, sementara jarinya mulai ia masukkan ke dalam vaginaku yang mulai kurasakan basah, dan Rizal mempermainkan jarinya di dalam vaginaku.

“Acchh.., aduuhh.., acchh..”. Tak tahan lagi, Rizal menarik lepas rok dan celana dalamku, hingga akhirnya saya kini telanjang bulat. Kemudian Rizal mencium bibirku dan saya tetap mengocok penisnya, sedangkan jarinya bermain dalam vaginaku.

“Acchh..” Hanya erangan tertahan karena tersumbat bibir Rizal yang keluar dari mulutku. Kemudian Rizal berhenti menciumku, lalu ia mengambil posisi menindih badanku, saya membiarkan saja apa yang akan Rizal lakukan, karena kenikmatan itu sudah mulai terasa mengaliri pembuluh darahku. Dan, tiba-tiba saya rasakan sakit yang teramat sangat di selangkanganku.

“aacchh, Rizal.., apa yang kau lakukan..”, tanyaku. Tapi terlambat, rupanya Rizal sudah memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku, dan seperti tidak mendengarkan pertanyaanku, Rizal mulai mengoyang batang penisnya naik turun dalam vaginaku yang semakin berlendir dan mulai terasa basah oleh aliran darah perawanku yang mengalir membasahi vaginaku.

“Acchh.., Rizal.., aduuhh Rizal..”, erangku.

Badanku semakin menggelinjang, kujepit badan Rizal dengan kedua kakiku sementara tanganku memeluk erat dan menggoreskan kukuku di punggung Rizal. Semakin kencang goyangan penis Rizal dan semakin keras pula erangan kami berdua.

“Acch.., aduhh..” Hingga akhirnya kurasakan sesuatu yang sangat nikmat yang terdorong dari dalam.., dan erangan panjang saya dan Rizal, “aahh”. Bersamaan semprotan mani Rizal dalam vaginaku dan semburan maniku yang menciptakan kenikmatan yang tak pernah kurasakan dan kubayangkan sebelumnya.

Rizal menarik keluar penisnya, lalu berbaring di sampingku. Kami berdua saling bertatapan, seperti ada penyesalan tentang apa yang telah terjadi, akan tetapi rupanya nafsu kami berdua lebih kuat lagi. Kuraih kembali dan kudekatkan wajahku ke wajah Rizal, kami lalu berciuman lagi dan saling melumat, kemudian kupegang erat penis Rizal, sehingga kembali menegang dan kembali lagi kami melakukan hubungan badan tersebut hingga beberapa kali.

Hingga hari ini saya dan Rizal, bila ada kesempatan masih mencuri waktu dan tempat untuk melakukan hubungan badan, karena mengejar kenikmatan yang tiada taranya, kadang di kamarku, di kamar Rizal, ataupun di dalam kamar mandi.

One thought on “Minta Dipijit Oleh Adek Sepupuku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *