Aku Bertemu Lagi Dengan Tukang Koran
15 mins read

Aku Bertemu Lagi Dengan Tukang Koran

Cerita Sex Gairah Dewasa – Tak terbayangkan saya dapat berbuat kayak yang ada di ceritaku ini, cerita sex ini berlangsung di komplek perumahan yang saya tinggali, saya telah berkeluarga dengan suami yang saya cintai dan sayangi namanya mas Rizky usianya 37 tahun ia lumayan cakep dengan jabatan selaku insinyur di industri konstruksi.

Saya sendiri Tika, 32 tahun, lumayan menarik, apalagi bagi tetanggaku saya sangat menarik, sampai mereka bilang saya mirip Ussy Sulistiowati, itu lho pembawa acara KDI yang berpasangan dengan Ramzi di stasiun tv TPI.

Tiap keluar rumah, saya senantiasa mengenakan hijab panjang yang tersampir sampai pinggang, lengkap dengan jubah panjang yang menutupi segala badan. Saya juga aktif di pengajian- pengajian yang kerap diadakan di dekat rumahku. Memanglah kuakui saya agak kesepian.

Semenjak 5 tahun pernikahan, kami belum pula dikaruniai anak. Saat- saat suami tidak di rumah saya kerap takut serta cemburu, khawatir ia mencari wanita lain yang dapat membagikan anak.

Demikian pula dikala suami lagi padat jadwal ataupun letih serta tidak banyak ngomong, saya sudah cepat curiga serta cemburu pula. Saya kerap membesarkan hati sendiri, kalau tidak ada yang kurang dari diriku. Baju islami, badan sintal, kulit putih, dimensi buah dada 36B, pantat juga masih montok, tidak mungkinlah suamiku mencari perempuan lain di luar situ.

Demikianlah pada suatu kala karena saya ada sedikit kendala kesehatan, saya berangkat berobat ke suatu poliklinik posyandu yang tidak jauh dari rumahku. Umumnya suamiku sendiri yang mengantar ke Rumah sakit Medika Kuningan, namun karna lagi tugas keluar kota jadi saya harus ke dokter sendiri.

Hari itu saya mengenakan jubah panjang yang bercorak putih dan hijab bercorak merah muda yang pula panjang. Dikala saya turun dari angkot( kendaraan universal) terlihat di ruang tunggu posyandu telah penuh orang yang sedang bermain slot di Nota4D.

Namun saya santai saja sebab memanglah tidak terdapat urusan yang menunggu sehingga wajib buru- buru. Mas Rizky, keluar kota buat 1 pekan semenjak kemarin pagi. Saya pula tidak butuh masak memasak. Kami berlangganan santapan dari orang sebelah yang mengusahakan catering.

Setelah beberapa saat menunggu, saya berasa kepingin ke wc buat berkemih. Setelah lewat lorong poliklinik yang lumayan panjang dan kemudian deretan pintu wc untuk lelaki saya sampai ke wc wanita.

Pada dikala inilah peristiwa itu terjadi sampai melahirkan cerita ini. Tanpa sengaja saat melewati wc lelaki saya menengok ke suatu wc yang pintunya menganga terbuka. Saya langsung tertegun serta sangat kaget seolah tersengat listrik. Kusaksikan seseorang lelaki lagi berdiri berkemih serta kulihat jelas pancuran kencingnya yang keluar dari kemaluannya yang terlihat tidak tersunat.

Yang membuat saya tertegun ialah kemaluan lelaki itu. Saya anggap sangat luar biasa gede serta panjang. Dalam pemikiran yang pendek itu saya telah berkesimpulan, dalam kondisi belum tegang( ngaceng) saja telah terlihat sebesar pisang tanduk. Saya tidak sanggup membayangkan sebesar apa jika kemaluan itu dilanda birahi serta ngaceng.

Saya masih tertegun dikala lelaki itu menengok keluar serta memandang saya lagi mengamatinya. Entah terencana ataupun tidak, ia menggoyang- goyangkan kemaluannya itu. Bisa jadi buat menuntaskan kencingnya. Saya cepat melengos. Saya malu dikira sengaja buat melihatinya.

Serta saya pula malu pada diriku sendiri, selaku istri maupun perempuan sebagaimana yang saya gambarkan di atas tadi. Namun entahlah. Barangkali lelaki tadi sudah pernah memandang mataku yang separuh melotot memandang kemaluannya. Saya sendiri jadi resah. Sampai sepulang berobat itu perasaanku terus tersendat.

Saya akui, oleh karena peristiwa itu sepanjang saya menunggu panggilan dari petugas poliklinik, pikiranku terus melayang- layang. Saya tidak sanggup melenyapkan ingatanku pada apa yang kusaksikan tadi. Bisa jadi saya tergoda. Serta tidak sebagaimana biasanya, libidoku terganggu.

Bayangan akan seandainya kemaluan sebesar itu menembusi vaginaku terus mengejar pikiranku. Jantungku terus berdegup kencang dan cepat. Entah apa yang kumaui saat ini. Mengapa saya jadi begini?! Seseorang Tika Marwah Anugerah yang menawan, terhormat, serta alim tidak boleh berpikir semacam ini! Apalagi saat ini saya mulai mencari- cari, siapa sesungguhnya lelaki itu.

Kutengok- tengok di antara wisatawan yang terletak di ruang tunggu serta pula sepintas yang terdapat di teras serta taman kebun, tetapi saya tidak sempat menjumpainya lagi. Khayalanku apalagi terus bergerak jadi demikian jauh.

Kubayangkan seandainya kemaluan macam itu berdiri tegak macam Tugu Monas. Dan saya berada di dekatnya sampai hidungku disergap aroma kelelakiannya sembari saya membayangkan menjilati kemaluan tegak itu.

Ahh.. Tanpa terencana tanganku memilin puting susu dari balik hijab panjangku. Rasa gatal kurasakan pada ujung- ujung pentilku, begitu hebat. 2 hari kemudian Aku lagi menyirami kembang di taman saat saya dengar tukang pengumpul koran lewat depan rumahku,

“ Koran sisa.. Korraann…” teriakannya yang khas.

Telah lebih dari 3 bulan koran sisa numpuk dekat lemari novel. Saya pikir kujual saja buat kurangi sampah di rumah.

Tanpa banyak pikir lagi,

“ Bang, tunggu, aku punya koran sisa, tuhh…” sembari saya beranjak merambah rumah buat mengambilnya.

Tetapi ternyata koran sebanyak itu lumayan berat. Kuputuskan, supaya si Abang itu saja yang mengambilnya. Kusuruh ia masuk sembari sekaligus membawa timbangannya.

Setelah mengikatnya dengan apik serta menimbangnya, ia membagikan Rp. 10. 000, padaku buat harga koran itu.

“ Terima kasih, Bu..” Dan aahh.. Kurang ajar bener nih Abang.

Saat menyerahkan duit di ruang tamu rumahku itu tangannya setengah meraih dan kurasakan hendak meremas tanganku.

Saya tarik secepatnya dan.. Saya kaget. Bukankah ini lelaki yang kulihat di poliklinik kemarin. Orang yang sudah membuat jantungku berdebar keras- keras. Semula saya hendak marah, tetapi saat ini ragu. Hatiku bicara lain. Bukankah ia yang telah mampu membuat saya resah gelisah.

Bu Tika yang alim ini saat ini tertegu penuh birahi di hadapan seseorang kuli pengumpul Koran sisa. Tidak terelakkan mataku mencari- cari. Mataku menyapu pandang pada badannya. Berbaju kaos oblong sisa kampanye Pilpres I yang berlogo salah satu calon presiden itu, saya mencermati gundukan menggunung pada selangkangan yang bercelana jeans kumel.

Tetapi apabila dilihat lebih jelas lagi, nyatanya Abang ini bersih serta.. Sangat jantan.

“Haahh… rasanya saya pernah lihat Abang ini, deh,” begitu aku berpura kelupaan.

Dia melihati aku dengan pandangannya yang tajam menusuk. Terus terang aku jadi takut dan bergidik. Mau apa dia ini? Dan yang terjadi adalah langkah pasti seorang pejantan,

“Yaa.. Aku melihat ibu di poliklinik itu, khan. Waktu itu ibu menengok aku yang sedang kencing?!”

Aku nggak setuju dengan tuduhannya itu. Namun apa sih artinya. Toh terbukti dia telah menggetarkan jiwaku. Dan dengan penuh percaya diri yang disertai senyumannya yang mesum dia mendesah berbisik..

“Aku sering berselingkuh dengan perempuan di luar istriku, Bu. Aku tahu kebanyakan perempuan suka dengan apa yang aku punya. Aku sangat tahu, Bu,” dengan bisik desah serak-seraknya tanpa ragu dia membanting dan merobek-robek harga diriku.

Dan yang lebih hebat lagi.

“Nih….. Ibu mau lihat?,”

Tanpa ragu lagi di cepat membuka celananya dan mengeluarkan kemaluannya yang masih belum tegak berdiri. Namun aku sekarang menjadi sangat ketakutan. Bagaimana seandainya dia bukan hanya menarik hati saja tetapi juga berbuat jahat atau kejam atau sadis padaku. Apa jadinya? Ahh, dia telah melumpuhkan pertahanan diri ku yang berjilbab panjang ini.

“Nggak, Bang.. Cukup. Terima kasih.. Sudah tinggalkan saya.. Tinggalkan rumah ini,” kataku panik, cemas, takut dan rasanya pengin nangis atau minta tolong tetangga.

Tetapi semuanya itu langsung musnah ketika tanpa terasa tanganku telah berada dalam genggamannya dan menariknya untuk disentuhkan dan digenggamkan ke batang kemaluannya yang kini telah bangkit membusung, dengan sepenuh liku ototnya, dengan semengkilat bening kepalanya, dengan searoma lelaki yang menerpa dan menusuk sanubariku.

“Lihat dulu, Bu.. Jangan takut.. Aku nggak akan menyakiti ibu, koq,” bisiknya setengah bergetar, terdengar begitu penuh pengalaman dan sangat menyihir.

Dan aku benar-benar menjadi korban tangkapannya seperti rusa kecil dalam terkaman singa pemangsanya.

“Lihat dulu neng…” sekali lagi diucapkannya.

Kali ini dengan tangannya sambil meraih kemudian menekan bahuku untuk bergerak merunduk atau jongkok. Dan sekali lagi aku menjadi begitu penurut. Aku berjongkok. Dan kusaksikan apa yang memang sangat ingin kusaksikan dalam 2 hari terakhir ini.

Aku yang masih mengenakan jilbab panjang berwarna hitam ini kini tengah berhadapan langsung dengan kemaluan seorang pria yang bukan suamiku, dan aku tengah terangsang. Ini bukan saja pesona. Ini merupakan sensasi bagi aku, Ibu Tika yang santun dan alim, istri manager yang juga insinyur itu.

Kini aku bergetar. Dengan jantungku yang berdegup-degup memukul-mukul dada mataku nanar menatap kemaluan lelaki lain. Sungguh aku terpesona. Kemaluan itu nampak sangat ‘ngaceng’ bak laras meriam yang lobangnya mengarah ke wajahku.

Aku menyaksikan lubang kencing yang menyihir libidoku. Aku menyaksikan ‘kont0l’ yang dahsyat. Aku langsung lumpuh dan luluh. Aku terjerat kelumpuhanku. Demikianlah pula saat kusaksikan ujung meriam itu mendekat, mendekat, mendekat hingga menyentuh pipiku, hidungku dan bibirku.

LAINNYA :

Yang kemudian kudengar adalah sepertinya ‘suara jauh dari angkasa’ yang penuh vibrasi,
“Jilat, neng jilbab, isep. Banyak koq ibu-ibu pengajian yang sudah menikmati ini juga. Isep kont0lku, neng. Aku ingin merasakan bibir neng jilbab yang sangat cantik dan seksi ini. Aku ingin merasakan isepan mulut neng yang pake jilbab panjang ini”

Tangan kanannya menekan kepalaku yang masih berbalut jilbab dan tangan kirinya mengasongkan ‘kont0l’nya ke mulutku.

Bagaimana aku mampu mengelak sementara aku sendiri serasa lumpuh sendi-sendiku. Aku merasakan ada asin-asin di lidahku. Aku tersadar. Aku jadi sepenuhnya sadar namun segalanya tengah berlangsung.

Aku tak mampu menghindar, baik dari kekuatan fisikku maupun dari tekad yang dikuasai rasa bimbang. Tidak lama. Mungkin baru berlangsung sekitar 1 atau 2 menit saat ‘kont0l’ itu terasa semakin mengeras dan memanas. Mulutku penuh dijejali bongkol kepalanya yang menebar rasa asin itu.

Sambil berdiri mengangkangi aku yang jongkok di depannya si Abang dengan sangat kuat mendorong-dorong kepalaku dan menggoyangkan pinggulnya mendorong dan menarik ‘kont0l’nya ke mulutku. Lagi, lagi, lagi.

Hingga nyaris membuatku tersedak. Rasanya ujung ‘kont0l’ itu telah merangsek maju mundur ke gerbang tenggorokanku. Kedutan-kedutan besar yang disertai semprotan-semprotan lendir kental yang hangat penuh muncrat ke haribaan mulutku.

Aku tahu persis, si Abang telah menumpahkan air maninya ke mulutku. Dan kemudian yang tak kuduga sebelumnya adalah saat dia memencet hidungku hingga dengan ngap-ngapan aku terpaksa menelan tuntas seluruh cairan kentalnya dan membasahi tenggorokanku. Sepertinya aku minum dan makan kelapa muda yang sangat muda.

Lendirnya itu demikian lembut memenuhi mulut untuk kukunyahi dan terpaksa menelannya. Bahkan pada suamiku aku tak pernah merasakan macam ini. Rasanya aku akan jijik dan tak akan pernah melakukannya pada Mas Rizky. Aku masih tertegun dan setengah bengong oleh rasa yang memenuhi rongga mulutku saat dia menggelandangku ke kamar tidurku.

Dengan tenaga kelelakiannya dia angkat dan baringkan tubuhku ke ranjang pengantinku. Entah kekuatan apa, aku tak mampu mengelakkan apa yang si Abang ini perbuat padaku. Dia lepasi busanaku. Dia tarik hingga robek jubahku. Demikian pula pakaian dalamku. Namun yang aneh, dia menyisakan bakutan jilbab panjang berwarna hitam tetap menempel di kepalaku.

Dia renggut BH-ku seketika hingga aku juga yakin kancing-kancingnya lepas. Dan tak ayal pula di renggut celana dalamku. Dia ciumi celana itu sambil menebar senyuman birahi dari gelora syahwatnya yang sedang terbakar berkobar.

Kemudian rebah menindih tubuh telanjangku.

“Neng muslimah, biar aku buat neng ketagihan yaa.. Nikmati kont0lku neng. Mahal nih. Aku tak mau sembarang ibu-ibu aku layani. Aku hanya milih-milih saja,” begitu suara orang yang dilanda prahara birahi sambil tangannya meremasi pinggul kemudian bokongku sementara bibirnya yang demikian tak terawat nyosor untuk melumat bibirku.

Aku berusaha menolaknya. Rasa jijik dan enggan menderaku. Namun sasaran berikutnya benar-benar membuat aku menyerah. Dia ‘kemot-kemot’ pentil susuku. Dia gigiti dagingnya. Entah berapa lama dia isepin dan tinggalkan cupang-cupang kotor pada seluru bidang dadaku, leherku, bahuku, ketiakku.

Kemudian juga turun keperut, ke selangkangan, ke pahaku. Adduuhh.. Ini sungguh sangat surgawi. Kenikmatan hubungan seksual yang belum pernah aku dapatkan dari suamiku.

Dan ketika puncak birahinya datang, si Abang ini naik merangsek dan menindih kembali tubuhku. Kurasakan ‘kont0l’nya mulai menggosok-gosok paha dan selangkanganku. Aku sudah benar-benar terbius. Dorongan nafsu birahiku sudah berada di ambangnya.

Aku sudah tak mampu lagi menahannya. Kini desah, rintih, jerit tertahan keluar dari mulutku dan memenuhi kamar pengantinku yang sempit ini,

“Tolonng baang.. Ayoo, Bang.. Aku sudah nggak tahaann.. Toloong.. Enak bangeett baang.. Aku cinta kont0l abaang.. Biar aku minum lagi pejuh abang nanti yaa…” kuraih kemaluan besar itu dengan cepat dan kutuntun untuk menembusi kemaluanku yang sudah sangat menantinya.

Masih dalam upaya penetrasi, dimana ujung ‘kont0l’ dahsyat itu sedang menerpa-terpa bibir kemaluanku ketika aku meraih orgasme pertamaku. Aku kembali menjerit dan mendesah tertahan. Kulampiaskan nafsu syahwatku. Kurajam pundak si Abang dengan cakarku. Kuhunjamkan kukuku ke dagingnya.

Rasanya kemaluanku demikian mencengkeram untuk mempersempit kepala kemaluan itu menembusinya. Namun rasa gatal ini sangat dahsyat. Si Abang cepat menerkam bibirku sambil mendesakkan kont0lnya dengan kuat ke lubangku.Begitu blezz.. Aku langsung diterpa orgasme keduaku. Ahh.. Inikah yang disebut orgasme beruntun? Hanya selang 10 detik aku mendapatkan kembali orgasmeku.

Ternyata memang inilah. Dalam hujan keringat yang menderas dari tubuhku dan tubuhnya selama 2 jam hingga jam 4 sore, aku mendapatkan orgasme beruntunku hingga sekitar 10 atau 12 kali.

Aku tak mungkin melupakan kenikmatan macam ini.

Mungkin aku tertidur karena puas dan lelah yang kudapatkan. Aku terbangun saat kupingku mendengar telpon berdering. Aku bangun dan lari untuk mengangkatnya,

“Jeng Tika, apa kabar..? Sehat? Aku sedang berada di pusat kerajinan di Balikpapan, nih. Banyak barang-barang artistik disini. Pasti kamu senang. Mau dibeliin apa?,” demikanlah kebiasaan suamiku kalau bertugas keluar kota. Dia selalu sempatkan mencari barang-barang kerajinan asli setempat.

Dia tahu aku sangat menyenangi barang-barang macam itu. Kasihan, sementara dia bekerja keras jauh dari rumahnya, dia telah kehilangan permatanya..Ternyata dengan aku telah meninggalkannya dalam selingkuhku dengan si Abang.

Masih pantaskah aku menjadi istri yang alim dan terhormat? Kulihat si Abang telah pergi. Mungkin sebelum aku terbangun tadi. Tumpukkan koran itu telah dibawanya. Kulihat barang-barangku yang lain tak ada yang berubah dari tempatnya. Ah, terkadang kita cepat curiga dengan orang lain yang kelasnya se-akan dibawah kita.

Aku masih termangu hingga sore mengendap dan menggelap. Bibir dan dinding kemaluanku masih terasa pedih. Aku nggak tahu. Aku ini menyesal atau tidak atas selingkuh yang telah aku perbuat.

Bahkan aku juga lupa Mas Rizky mau belikan apa tadi?! Yang aku mencoba mengingatnya hanyalah sekitar 10 atau 12 kali aku telah meraih orgasme dalm berasyik masyuk sepanjang 2 jam dengan Abang pengumpul koran bekas tadi. Mungkin itu akan menjadi rekor seumur hidupku.

One thought on “Aku Bertemu Lagi Dengan Tukang Koran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *